Iran Ancam “Zero Restraint” Jika Infrastruktur Diserang Lagi, Qatar Hitung Kerugian Ratusan Triliun

afp 69bae61f9014 1773856287

Teheran/Doha – Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik paling kritis setelah Iran mengeluarkan ancaman mengerikan: akan menunjukkan “zero restraint” atau tanpa batasan jika infrastruktur energinya kembali diserang. Peringatan ini disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah kekacauan yang dipicu serangan balasan atas pengeboman Israel di ladang gas South Pars.

Ancaman ini muncul saat negara-negara Teluk, terutama Qatar, masih menghitung kerusakan dahsyat akibat serangan rudal Iran yang melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor LNG global dan menyebabkan kerugian tahunan mencapai US$20 miliar atau Rp 327 triliun.

Araghchi: “Hanya Sebagian Kecil Kekuatan Kami”

Dalam pernyataan tegasnya di platform X pada Kamis (19/3/2026), Araghchi mengungkapkan bahwa serangan balasan Iran ke fasilitas energi di kawasan Teluk hanya menggunakan “sebagian kecil” dari kekuatan yang dimiliki.

“Respons kami terhadap serangan Israel terhadap infrastruktur kami hanya menggunakan SEBAGIAN kecil dari kekuatan kami. Satu-satunya alasan untuk menahan diri adalah menghormati permintaan de-eskalasi,” tulis Araghchi.

Ia kemudian melontarkan ancaman yang menggetarkan kawasan: “ZERO restraint” atau tanpa batasan sama sekali jika infrastruktur Iran kembali diserang.

Peringatan ini menjadi sangat signifikan mengingat South Pars adalah sumber pasokan gas domestik terbesar Iran, menyediakan 80 persen kebutuhan gas alam negara itu. Menyerang fasilitas ini sama dengan menyerang jantung energi Iran.

Netanyahu Klaim Bertindak Sendiri, Ikuti Perintah Trump

Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers menegaskan bahwa negaranya “bertindak sendiri” dalam menyerang South Pars. Ia mengklaim bahwa tujuan perang melawan Iran adalah untuk menghilangkan ancaman nuklir dan rudal balistik “sebelum mereka terkubur jauh di bawah tanah dan menjadi kebal dari serangan udara.”

Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel dan AS sedang “menghancurkan pabrik-pabrik yang memproduksi komponen untuk membuat rudal, melenyapkan basis industri mereka dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.” Ia bahkan mengklaim bahwa “struktur komando dan kendali Iran berada dalam kekacauan total.”

Menariknya, Netanyahu mengaku akan menahan diri dari serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Iran atas permintaan Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Trump secara terbuka meminta Israel untuk tidak mengulangi serangan terhadap fasilitas gas Iran.

Qatar: Serangan dari “Negara Muslim Bersaudara” di Bulan Suci

Sementara itu, Qatar masih bergulat dengan dampak dahsyat serangan Iran terhadap fasilitas LNG-nya. CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi mengungkapkan kepedihannya karena serangan datang dari sesama negara Muslim, apalagi di bulan Ramadan.

“Saya tidak pernah dalam mimpi terliar saya membayangkan bahwa Qatar akan – Qatar dan kawasan – akan berada dalam serangan seperti ini, terutama dari negara Muslim yang bersaudara di bulan Ramadan, menyerang kami seperti ini,” ujarnya dengan nada kecewa.

Al-Kaabi membeberkan rincian kerusakan yang mengerikan:

· Dua dari 14 train LNG (unit pencairan gas) hancur
· Satu fasilitas gas-to-liquids rusak parah
· Produksi 12,8 juta ton LNG per tahun terhenti selama 3-5 tahun
· Kerugian pendapatan tahunan mencapai US$20 miliar
· Biaya pembangunan unit yang rusak sekitar US$26 miliar

Akibatnya, QatarEnergy kemungkinan besar harus mengumumkan force majeure untuk kontrak jangka panjang dengan pembeli di Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China hingga lima tahun ke depan.

Blokade Selat Hormuz dan Kenaikan Harga Global

Iran juga secara efektif telah memblokade Selat Hormuz, jalur air kritis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Tindakan ini telah memicu lonjakan harga bensin dan kekhawatiran global tentang inflasi yang meningkat.

Sekretaris Jenderal Dewan Kerjasama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Albudaiwi, mengecam keras serangan Iran. Menurutnya, tindakan tersebut “mencerminkan sifat agresif rezim Iran dan pengabaiannya terhadap keamanan dan stabilitas kawasan dan dunia.”

Pesan untuk Dunia: Jauhi Fasilitas Minyak dan Gas

Di tengah kekacauan ini, al-Kaabi mengirimkan pesan keras kepada semua pihak yang bertikai, termasuk Israel, AS, dan negara mana pun di dunia.

“Jika Israel menyerang Iran, itu urusan antara Iran dan Israel. Itu tidak ada hubungannya dengan kami dan kawasan,” tegasnya.

“Jadi sekarang, sebagai tambahan, saya katakan bahwa semua orang di dunia, baik itu Israel, AS, atau negara lain mana pun, semua orang harus menjauhi fasilitas minyak dan gas,” pungkasnya.

Dengan Iran yang mengancam “zero restraint” dan Qatar yang kehilangan 17 persen kapasitas LNG-nya selama bertahun-tahun, dunia kini bersiap menghadapi fase tergelap dari perang energi ini. Harga gas dan minyak dipastikan akan terus melonjak, memicu inflasi global, dan mengancam ketahanan energi negara-negara konsumen di seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *