BGN Ungkap Satu Dapur MBG Terima Rp 1 Miliar per Bulan, Perputaran Uang di Jabar Capai Rp 5 Triliun

69b8eb76d4f63

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah ternyata tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi di berbagai daerah. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG rata-rata menerima dana sekitar Rp 1 miliar per bulan.

Dana tersebut kemudian berputar di wilayah masing-masing, menciptakan efek ekonomi yang signifikan. Dadan memberikan contoh di Jawa Barat yang kini telah memiliki sekitar 5.000 SPPG, sehingga perputaran dana mencapai Rp 5 triliun setiap bulan.

“Jadi, satu SPPG rata-rata akan menerima uang Rp 1 miliar per bulan. Kalau di Jawa Barat sudah ada 5.000 SPPG, itu artinya uang di Jawa Barat beredar Rp 5 triliun per bulan,” kata Dadan dalam keterangan tertulis, Jumat (20/3/2026).

Efek Berganda Program MBG

Dadan menjelaskan bahwa dengan program yang telah berjalan 2,5 bulan, perputaran uang di Jawa Barat diperkirakan telah mencapai Rp 11 triliun hingga Rp 12 triliun. Angka ini menunjukkan bagaimana program MBG mampu menggerakkan roda ekonomi lokal secara signifikan.

“Inilah yang menggerakkan roda ekonomi di setiap daerah dan kemudian menjadi isu hal lokal di mana pemenuhan kebutuhan pangan seharusnya dipasok lokal,” paparnya.

Program MBG sejak awal dirancang untuk mendorong pemanfaatan sumber daya lokal. Kebutuhan pangan dalam program ini diharapkan dipenuhi dari produksi daerah sekitar, sehingga membuka peluang pasar bagi petani, pelaku usaha, hingga industri pangan lokal.

Aliran Dana ke Daerah

Sebagian besar anggaran BGN langsung disalurkan ke daerah melalui mekanisme virtual account yang terhubung dengan SPPG di seluruh Indonesia. Dadan menegaskan bahwa 93 persen dana Badan Gizi Nasional langsung disalurkan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) melalui virtual account.

“Masuk di virtual account seluruh SPPG di seluruh Indonesia yang jumlahnya sudah 25.574. Jadi dengan program ini terjadi pemerataan pengiriman uang di setiap daerah,” ucap Dadan.

Dengan jumlah SPPG yang terus bertambah, distribusi dana ke daerah menjadi semakin merata, menciptakan dampak ekonomi yang luas di berbagai wilayah.

Penciptaan Lapangan Kerja Baru

Dadan juga menyoroti pentingnya peran SPPG dalam menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal. Setiap dapur MBG membutuhkan tenaga operasional hingga tenaga ahli seperti ahli gizi yang direkrut dari masyarakat setempat.

“Jadi dengan program ini terjadi pemerataan pengiriman uang di setiap daerah,” ujar Dadan menegaskan dampak positif program terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.

Dorongan Ekonomi Sirkular

Kesadaran akan pentingnya penguatan ekonomi lokal kini juga semakin meningkat, termasuk di kalangan pemerintah daerah. Dadan mengungkapkan bahwa banyak kepala daerah mulai mendorong agar dana yang masuk ke wilayahnya dibelanjakan untuk produk dan bahan baku lokal.

“Saya harapkan terjadi satu pergerakan ekonomi circular di satu daerah yang sekarang alhamdulillah sudah mulai disadari oleh semua pihak betapa pentingnya meningkatkan produktivitas lokal sehingga ekonomi di daerah akan berkembang. Sekarang, sudah banyak kepala daerah yang menginginkan uang yang masuk ke satu daerah itu dibelanjakan dengan membeli bahan baku yang ada di daerah tersebut,” ucap dia.

Pendekatan Berbasis Potensi Lokal

Untuk memastikan program berjalan optimal, BGN menempatkan tenaga ahli gizi di setiap SPPG yang direkrut dari wilayah setempat. Langkah ini bertujuan agar pemenuhan gizi dapat disesuaikan dengan potensi sumber daya serta preferensi masyarakat lokal.

Dengan pendekatan tersebut, program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian dan pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. Program yang awalnya difokuskan pada aspek kesehatan dan gizi ini kini terbukti memiliki dampak ekonomi yang luas dan menjadi salah satu instrumen pemerataan pembangunan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *