Kita sering mendengar kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan mengambil alih pekerjaan manusia. Tapi di balik gemerlap dunia digital, ada cerita lain yang sedang berlangsung. Sebuah ledakan besar terjadi, bukan pada layar komputer, tapi pada fondasi fisik yang menopang revolusi AI itu sendiri.
Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon telah menggelontorkan hampir US$700 miliar tahun ini. Mereka membangun pusat data raksasa di berbagai penjuru. Amazon saja menghabiskan US$12 miliar di Louisiana untuk sebuah fasilitas yang nantinya akan membutuhkan 540 pekerja penuh waktu, ditambah 1.700 peran untuk teknisi listrik, teknisi, dan spesialis keamanan. Meta juga ikut membangun pusat data Hyperion di tempat yang sama, yang kabarnya akan mengonsumsi lebih banyak listrik daripada seluruh kota New Orleans.
Di tengah hiruk-pikuk ini, muncul pertanyaan: siapa sebenarnya yang paling dibutuhkan?
Bukan programmernya. Ternyata, para pekerja terampil dengan keahlian fisik lah yang kini menjadi primadona.
Sander van’t Noordende, CEO Randstad, perusahaan perekrutan terbesar di dunia, mengatakan bahwa revolusi digital ini membutuhkan fondasi fisik yang masif. Dan data membuktikannya. Antara 2022 dan 2026, permintaan untuk teknisi robotika melonjak 107%. Insinyur sistem pendingin atau HVAC naik 67%, sementara teknisi otomatisasi industri tumbuh 51%. Bahkan pekerja konstruksi dan teknisi listrik yang selama ini dianggap “tradisional” mengalami peningkatan permintaan 27%.
Di balik angka-angka itu, ada cerita tentang langkanya keahlian. Noordende menyebutnya sebagai “premi kelangkaan”. Para insinyur HVAC, misalnya, dalam empat tahun terakhir mengalami kenaikan upah sekitar 10 hingga 15 persen. Mereka yang masuk ke peran pusat data tingkat tinggi bisa merasakan lonjakan gaji 25 hingga 30 persen. Jensen Huang, CEO Nvidia yang menjadi salah satu tokoh sentral di balik ledakan AI, bahkan memprediksi bahwa gaji enam digit dolar AS akan segera menjadi kenyataan bagi para pekerja yang membangun pabrik-pabrik AI.
Tapi di balik peluang ini, ada juga kekhawatiran yang dalam. Amerika Serikat diperkirakan kekurangan 1,9 juta pekerja manufaktur pada 2033. Hampir setengah juta pekerja baru akan dibutuhkan pada 2027. Gary Wojtaszek, CEO Pure Data Centres, mengakui bahwa kekurangan keterampilan ini adalah masalah besar saat ini, dan diperkirakan akan semakin buruk.
Para pemimpin industri mulai bergerak. BlackRock baru saja meluncurkan inisiatif US$100 juta untuk memberdayakan generasi pekerja terampil berikutnya. Larry Fink, CEO-nya, menyadari bahwa modal saja tidak cukup untuk mewujudkan investasi infrastruktur senilai US$10 triliun. Butuh tangan-tangan terampil yang siap membangun.
Namun, jalan masih panjang. Sekitar satu dari empat pekerja di dunia sudah mendekati usia pensiun. Kumpulan talenta tidak diperbarui cukup cepat. Dan yang paling menantang, tidak seperti pengembang perangkat lunak yang bisa bekerja dari mana saja, pekerjaan terampil ini terikat pada lokasi fisik.
Ada pula beban psikologis yang mungkin mulai terasa. Awal bulan ini, pusat data Amazon Web Services di Uni Emirat Arab menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak Iran. William Self dari Mercer menyoroti bagaimana konflik geopolitik dapat menambah beban psikologis bagi mereka yang bekerja di fasilitas yang menjadi target. Ini bisa memicu “tingkat pembayaran risiko” yang akan menambah kompleksitas paket kompensasi di masa mendatang.
Yang jelas, di tengah gempuran AI yang konon akan menggantikan manusia, ada ruang-ruang kerja baru yang justru menanti kehadiran tangan-tangan terampil. Revolusi digital yang kita bicarakan selama ini ternyata membutuhkan fondasi yang sangat nyata, dan fondasi itu sedang dibangun oleh mereka yang mengerti cara kerja listrik, sistem pendingin, dan mesin-mesin industri.
