Jakarta – Berakhirnya bulan suci Ramadan menandai datangnya Hari Raya Idul Fitri yang penuh berkah. Momen kemenangan ini senantiasa memancarkan kebahagiaan bagi seluruh umat Muslim yang merayakannya, sebagaimana dahulu Rasulullah SAW juga menyambut hari raya dengan penuh sukacita.
Meski dalam suasana perayaan, kita tetap diingatkan untuk senantiasa menjalankan kewajiban sebagai muslim. Hal ini mencakup peningkatan kesadaran spiritual kepada Allah SWT, menjaga keharmonisan lingkungan, serta menegakkan keadilan sosial di tengah masyarakat.
Berikut adalah 7 kebiasaan yang biasa dilakukan Rasulullah SAW saat Hari Raya Idul Fitri yang dapat kita teladani:
- Makan Sebelum Salat Idul Fitri
Salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah adalah makan terlebih dahulu sebelum berangkat melaksanakan salat Idul Fitri. Kebiasaan ini dijelaskan dalam kitab Muwatta Malik yang disusun Imam Malik bin Anas.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang-orang diperintahkan untuk makan terlebih dulu sebelum berangkat salat Idul Fitri. Imam Malik menjelaskan bahwa kebiasaan ini tidak dilakukan pada Idul Adha.
Rasulullah SAW sendiri diceritakan lebih suka makan kurma dalam jumlah ganjil sebelum sholat Idul Fitri. Dalam hadist riwayat Bukhari disebutkan:
“Rasulullah SAW tidak pernah sholat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma. Anas juga menceritakan: Rasulullah SAW biasa makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari)
Meski hadist tidak menyebutkan jumlah pasti kurma yang dimakan, kebiasaan makan kurma dalam jumlah ganjil ini menjadi sunnah yang terus dilestarikan umat Muslim hingga kini.
- Menggunakan Pakaian Terbaik Saat Idul Fitri
Rasulullah SAW memiliki kebiasaan mengenakan pakaian terbaiknya saat hari raya tiba. Kebiasaan ini dikisahkan dalam buku Fiqh Us-Sunnah: Superagatory Prayers karya As-Sayyid Sabiq, yang mengutip tulisan Ibn Al-Qayyim.
Dalam tulisannya, Ibn Al-Qayyim menjelaskan: “Rasulullah SAW biasa menggunakan pakaian yang terbaik untuk hari-hari tersebut dan dia punya jubah (cloak) khusus yang hanya dipakai pada dua Hari Raya dan Jumat.”
Ja’far ibn-Muhammad menambahkan bahwa pakaian tersebut adalah jubah Yaman yang menjadi pakaian terbaik di masa itu. Tradisi mengenakan pakaian terbaik ini mengajarkan kita untuk menghormati kemuliaan hari raya dengan penampilan yang baik dan bersih.
Namun perlu diingat, dalam memilih pakaian terbaik, penting untuk memastikan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Terdapat hadis yang menjelaskan larangan bagi laki-laki menggunakan pakaian dari sutra. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menegaskan bahwa sutra diperuntukkan bagi mereka yang tidak mendapat bagian di hari akhir, sehingga kaum muslimin diimbau untuk menghindarinya.
- Membayar Zakat Fitrah
Selain makan dan mengenakan pakaian terbaik, Rasulullah SAW juga membayar zakat fitrah sebelum salat Idul Fitri. Kebiasaan ini memiliki keutamaan besar dan dijelaskan dalam kitab Bulugh Al-Maram.
Dalam hadist riwayat Abu Dawud dan Ibn Majah yang bersumber dari Ibn ‘Abbas RA disebutkan:
“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah atas puasa Ramadhan untuk membersihkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak menyenangkan serta menyediakan makanan bagi yang memerlukan. Disebut Zakat bagi yang membayar sebelum sholat Idul Fitri dan Sadaqah bagi yang membayar setelah sholat Idul Fitri.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, dan Al-Hakim dengan derajat shahih)
Dari hadis ini kita memahami bahwa waktu pembayaran zakat fitrah sangat menentukan statusnya. Jika dibayar sebelum sholat Id, ia diterima sebagai zakat yang menyucikan. Namun jika dibayar setelah sholat Id, ia hanya dianggap sedekah biasa.
Zakat fitrah memiliki dua dimensi penting: secara vertikal membersihkan diri dari kekurangan selama berpuasa, dan secara horizontal membantu kaum dhuafa agar turut merasakan kebahagiaan hari raya.
- Membaca Surat Qaf dan Al-Qamar Saat Salat
Selama sholat Idul Fitri, Rasulullah SAW terbiasa membaca dua surat yang berbeda di tiap rakaat. Kebiasaan ini diceritakan dalam kitab Bulugh Al-Maram melalui riwayat Abu Waqid Al-Laithi RA:
“Rasulullah SAW biasa membaca pada Idul Fitri dan Idul Adha surat Qaf dan Al-Qamar.” (HR Muslim)
Surat Qaf mengandung pesan tentang pentingnya menjaga lisan, karena semua yang dilakukan manusia diketahui Allah SWT. Hal yang baik akan membawa ridho dan pahala dari Allah SWT, dan berlaku juga untuk sebaliknya.
Sementara surat Al-Qamar menceritakan kaum-kaum terdahulu yang menolak ajakan menyembah Allah SWT dan meminta bukti kebenaran ajaran tersebut. Mereka yang tetap ingkar akan mendapat balasannya, sedangkan yang meyakini kebenaran tersebut akan memperoleh berkah dari Allah SWT.
Dua surat ini mengingatkan para muslim untuk tetap menjaga perilaku, meski sedang berada dalam suasana hari raya. Jangan sampai ada perbuatan, perkataan, atau tingkah laku yang melukai sesama manusia hanya karena terbawa euforia kemenangan.
- Menempuh Rute Pulang dan Pergi yang Berbeda
Salah satu kebiasaan unik Rasulullah saat hari raya adalah mengambil jalan yang berbeda antara saat berangkat dan pulang dari tempat sholat. Kebiasaan ini dijelaskan dalam hadist yang diceritakan Jabir RA:
“Saat sholat Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAW akan berangkat dengan rute yang berbeda dengan saat pulang.” (HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama memberikan beberapa hikmah di balik kebiasaan ini. Pertama, agar kedua jalan tersebut menjadi saksi di hari kiamat atas ibadah yang dilakukan. Kedua, untuk memperlihatkan syiar Islam di lebih banyak tempat. Ketiga, untuk menyapa lebih banyak kaum muslimin yang mungkin berbeda jalur.
Hikmah sosialnya juga besar: dengan mengambil jalan berbeda, kesempatan bertemu dan bersilaturahmi dengan lebih banyak orang terbuka lebar. Ini sejalan dengan semangat Idul Fitri sebagai momen mempererat tali persaudaraan.
- Bersenang-senang Sewajarnya
Hari Raya Idul Fitri yang menandai kembalinya manusia pada fitrah memang patut dirayakan. Nabi Muhammad SAW juga ikut merayakannya namun dengan tidak berlebihan. Sikap moderat dalam bergembira ini tercermin dalam sebuah hadist yang diceritakan Aisyah RA:
Suatu ketika Abu Bakar masuk dan mendapati dua gadis Ansar sedang bernyanyi tentang Hari Bu’ath. Abu Bakar kemudian berkata, “Ada alat setan di rumah Rasulullah SAW?” Saat itu adalah Idul Fitri dan Rasulullah SAW menjawab, “Ya Abu Bakar, tiap orang punya festival dan ini adalah perayaan kita.” (HR Ibnu Majah)
Hadis ini mengajarkan beberapa hal penting. Pertama, Islam memberikan ruang untuk ekspresi kebahagiaan di hari raya. Kedua, kebahagiaan tersebut tetap dalam koridor yang wajar dan tidak melampaui batas. Ketiga, sikap toleran terhadap perbedaan cara merayakan selama tidak melanggar syariat.
Rasulullah mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan kegembiraan. Beliau tidak melarang umatnya bergembira, namun juga mengingatkan agar kegembiraan itu tidak melupakan Allah dan sesama.
- Mengunjungi yang Sakit dan Silaturahmi
Rasulullah SAW memiliki kebiasaan mulia di hari raya: menerima tamu dan mengunjungi para sahabatnya. Beliau juga secara khusus mengunjungi orang-orang yang sedang sakit. Dalam sebuah hadis, disebutkan keutamaan luar biasa dari amalan ini.
Abu Hurairah RA menceritakan Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang mengunjungi orang sakit atau saudaranya, semoga Allah SWT memberikan berkah dan pekerjaan yang baik dan semoga kau tinggal selamanya dalam surga.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya pahala menjenguk orang sakit dan bersilaturahmi. Di hari raya yang penuh berkah, amalan ini menjadi semakin utama. Mengunjungi saudara, tetangga, dan kerabat tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga membuka pintu rezeki dan keberkahan.
Silaturahmi di hari raya juga menjadi momen tepat untuk saling memaafkan, membersihkan hati dari dendam dan prasangka, serta memulai lembaran baru dengan hubungan yang lebih baik.
Hikmah di Balik Sunnah Idul Fitri
Ketujuh kebiasaan Rasulullah di atas mengandung pesan mendalam tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi hari kemenangan. Ada keseimbangan antara hubungan dengan Allah (habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas).
Dari sisi spiritual, kita diajarkan untuk tetap memuliakan Allah dengan ibadah seperti sholat dan zakat, bahkan di tengah kegembiraan. Dari sisi sosial, kita diajarkan untuk berbagi dengan yang membutuhkan, mempererat silaturahmi, dan menyebarkan kebahagiaan.
Rasulullah juga mengajarkan bahwa menjadi muslim yang baik bukan berarti meninggalkan kegembiraan duniawi sama sekali. Yang terpenting adalah bagaimana kegembiraan itu tetap dalam bingkai syariat dan tidak melupakan esensi kemenangan sejati: kembali menjadi pribadi yang suci dan lebih baik.
Mengamalkan Sunnah di Era Modern
Di tengah modernitas, ketujuh sunnah ini masih sangat relevan untuk diamalkan. Makan kurma sebelum sholat Id, mengenakan pakaian terbaik, membayar zakat tepat waktu, membaca surat-surat pilihan, mengambil jalan berbeda saat pulang, bergembira sewajarnya, serta bersilaturahmi dan menjenguk orang sakit adalah amalan yang mudah dilakukan namun berpahala besar.
Di era digital, silaturahmi bisa diperluas dengan memanfaatkan teknologi, meski tentu tidak menggantikan keutamaan bertemu langsung. Demikian pula dengan berbagi kebahagiaan, bisa dilakukan dengan bersedekah tidak hanya kepada yang membutuhkan di sekitar kita, tetapi juga melalui berbagai platform berbagi yang kredibel.
Yang terpenting adalah niat dan semangat untuk meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam merayakan hari raya. Dengan mengamalkan sunnah-sunnah ini, semoga Idul Fitri kita semakin bermakna dan membawa keberkahan.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang kembali ke fitrah dan meraih kemenangan sejati.
