Teluk – Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memasuki fase paling eksplosif. Setelah serangan Israel ke ladang gas South Pars, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran yang menargetkan fasilitas energi di lima negara Teluk: Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain. Presiden AS Donald Trump merespons dengan ancaman mengerikan: jika Iran berani menyerang Qatar lagi, AS akan “meledakkan seluruh ladang gas South Pars” dengan kekuatan yang belum pernah dilihat Iran sebelumnya.
Rentetan Serangan Balasan Iran
Pada Rabu malam hingga Kamis dini hari (19/3/2026), Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone yang menghantam sejumlah titik vital di kawasan Teluk:
· Qatar: Serangan rudal menghantam fasilitas LNG Ras Laffan, pusat gas alam cair terbesar dunia. Kebakaran besar terjadi dan terlihat hingga puluhan kilometer. QatarEnergy mengonfirmasi kerusakan parah pada beberapa fasilitas. Sebagai respons, Qatar mengusir staf Kedutaan Iran dan menyatakan mereka sebagai persona non grata.
· Arab Saudi: Empat rudal balistik dicegat, tetapi pecahannya melukai empat warga sipil di Riyadh. Fasilitas gas di Provinsi Timur dan kilang SAMREF di Yanbu juga menjadi target.
· UEA: Fasilitas gas Habshan dan ladang Bab diserang, memaksa penghentian operasi. Sebuah kapal kargo juga terkena proyektil tak dikenal di lepas pantai Khawr Fakkan.
· Kuwait: Drone Iran berhasil dicegat. Negara ini bahkan menutup Masjid Agung untuk liburan Idulfitri sebagai langkah antisipasi.
· Bahrain: Sirene serangan rudal berbunyi, menambah daftar panjang negara yang terseret dalam pusaran konflik.
Ancaman Nuklir Trump: AS Akan Hancurkan South Pars
Di tengah kekacauan ini, Presiden Trump mengeluarkan pernyataan mengejutkan di platform Truth Social. Ia mengklaim bahwa Israel menyerang South Pars “karena kemarahan” dan tanpa sepengetahuan AS—meskipun pejabat sebelumnya membantahnya. Trump kemudian memberikan ultimatum keras kepada Iran:
“TIDAK ADA LAGI SERANGAN YANG AKAN DILAKUKAN ISRAEL terkait ladang South Pars yang sangat penting dan berharga ini, kecuali Iran dengan tidak bijak memutuskan untuk menyerang Qatar yang sama sekali tidak bersalah dalam kasus ini.”
Jika Iran kembali menyerang, Trump mengancam akan menggunakan kekuatan AS.
“…dengan atau tanpa bantuan atau persetujuan Israel, akan meledakkan seluruh ladang gas South Pars dengan kekuatan yang belum pernah dilihat atau disaksikan Iran sebelumnya.”
Trump menambahkan bahwa ia tidak ingin mengizinkan tingkat kekerasan dan kehancuran ini karena implikasi jangka panjangnya, tetapi akan melakukannya jika fasilitas Qatar kembali diserang.
Iran: “Konsekuensi Tak Terkendali” dan “Hancurkan Sampai Tuntas”
Teheran tidak tinggal diam. Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Iran akan menyebabkan “konsekuensi yang tak terkendali yang dampaknya akan meliputi seluruh dunia.”
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan ancaman yang lebih mengerikan: jika fasilitas Iran kembali diserang, serangan terhadap infrastruktur energi Teluk “tidak akan berhenti sampai hancur total.”
Reaksi Negara Teluk: “Kepercayaan Hancur” dan “Hak untuk Bertindak Militer”
Para menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam menggelar pertemuan darurat di Riyadh. Hasilnya, mereka mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam keras serangan Iran.
“Serangan yang disengaja oleh Iran menggunakan rudal balistik dan drone, yang menargetkan area pemukiman dan infrastruktur sipil… tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun atau dengan cara apa pun,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa “kepercayaan yang tersisa telah hancur total” dan menegaskan bahwa Kerajaan berhak mengambil tindakan militer “jika dianggap perlu.”
“Serangan terhadap negaraku dan negara tetangga yang tidak terlibat dalam konflik ini—hanya itu yang menjadi perhatianku,” tegasnya. “Kami akan menggunakan semua pengaruh yang kami miliki—politik, ekonomi, diplomatik, dan lainnya—untuk menghentikan serangan ini.”
Dampak Global: Dunia di Tepi Jurang Krisis Energi
Serangan beruntun ini telah mengubah konfrontasi regional menjadi krisis energi global yang akut. Dengan Selat Hormuz yang telah ditutup Iran, dan sekarang fasilitas produksi di kedua belah pihak menjadi sasaran langsung, pasokan minyak dan gas dunia menghadapi ancaman eksistensial.
Harga minyak dan gas diperkirakan akan melonjak lebih tinggi lagi, memicu inflasi global dan potensi resesi. Negara-negara Teluk, yang selama ini menjadi penopang stabilitas pasar energi, kini justru menjadi medan pertempuran. Dunia kini menanti dengan napas tertahan: apakah Trump akan menepati ancaman nuklirnya? Ataukah Iran akan benar-benar menghancurkan infrastruktur energi tetangganya? Satu hal yang pasti, perang ini telah melepaskan diri dari kendali dan mengancam kehancuran ekonomi yang tak terbayangkan.
