Washington – Amerika Serikat masih menunggu respons Iran terkait rencana pertemuan damai tingkat tinggi di tengah konflik yang terus memanas. Di saat bersamaan, Israel dilaporkan memantau dengan waspada dan khawatir kesepakatan yang dicapai tidak sesuai dengan kepentingannya.
Presiden AS Donald Trump disebut ingin segera mengakhiri perang. “Kami berbicara dengan orang yang tepat, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” ujarnya di Gedung Putih seperti dilansir Axios.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah pihak Iran. Teheran mengakui menerima pesan dan proposal dari Washington, tetapi menegaskan belum ada negosiasi resmi yang berlangsung.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan khawatir Trump akan menyepakati perjanjian yang terlalu lunak. Sumber Israel menyebut adanya kekhawatiran bahwa kesepakatan itu akan membatasi kemampuan Israel untuk terus menyerang Iran.
AS sendiri telah menyiapkan proposal berisi 15 poin untuk mengakhiri perang dan membagikannya ke Israel. Dalam dokumen tersebut, Iran disebut diminta menghentikan pengayaan uranium, membatasi rudal balistik, serta mengurangi dukungan terhadap kelompok proksi.
Utusan AS Steve Witkoff mengklaim Iran telah menyetujui beberapa poin penting, termasuk menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi. Namun hingga kini, belum ada bukti jelas atau konfirmasi dari pihak berwenang di Teheran.
Situasi semakin rumit karena kondisi internal Iran disebut tidak stabil. Bahkan, laporan menyebut komunikasi di dalam pemerintahan terganggu, termasuk ketidakjelasan peran pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei dalam pengambilan keputusan.
Sejumlah negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir turut menjadi mediator dalam upaya meredakan ketegangan yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
