Sebagian umat Islam di Tanah Air menyambut Lebaran Idulfitri 1447 H pada hari ini, Jumat (20/3/2026), sementara sebagian lainnya akan merayakannya besok, Sabtu (21/3/2026). Di momen penuh kemenangan ini, tradisi berkumpul dengan keluarga besar sembari menikmati hidangan khas Lebaran menjadi pemandangan yang tak terpisahkan.
Di antara berbagai hidangan yang tersaji, satu kue kering selalu hadir di setiap meja: nastar. Kue berisi selai nanas dengan cita rasa manis legit ini telah menjadi ikon kuliner Lebaran yang melekat erat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Tapi, bagaimana sejarahnya hingga nastar bisa menjadi primadona di setiap Hari Raya?
Asal-usul Nama dan Akar Sejarah Kolonial
Nama “nastar” berasal dari bahasa Belanda, gabungan kata ananas (nanas) dan taart (kue atau tart). Secara harfiah, nastar berarti “kue tar nanas”. Jejak ini menunjukkan pengaruh kuat era kolonial Belanda yang membawa tradisi membuat kue kering saat perayaan tertentu ke Nusantara.
Pada masa kolonial, kue-kue kering ala Eropa menjadi bagian dari gaya hidup kelas menengah ke atas. Nastar, dengan bahan dasar mentega, gula, dan isian selai, merupakan salah satu kue yang dikenalkan oleh masyarakat Belanda. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia melakukan adaptasi yang cerdas terhadap resep asli tersebut.
Adaptasi Lokal: Dari Rasa Eropa Menjadi Khas Indonesia
Perubahan paling signifikan terjadi pada isian. Resep asli nastar kemungkinan menggunakan isian buah-buahan khas Eropa. Namun, di tanah tropis yang kaya akan buah-buahan, nanas menjadi pilihan yang tepat. Nanas mudah ditemukan, memiliki rasa manis asam yang khas, dan menghasilkan selai dengan tekstur yang sempurna untuk isian kue.
Selain itu, ukuran nastar juga mengalami transformasi. Kue yang awalnya berukuran besar ala tart Eropa diubah menjadi bentuk kecil bulat yang lebih praktis. Perubahan ini membuat nastar lebih mudah disajikan sebagai hidangan saat menerima tamu bersilaturahmi. Adaptasi inilah yang membuat nastar semakin populer dan perlahan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, tidak lagi terbatas pada kalangan elite.
Makna Simbolis: Lebih dari Sekadar Kue Kering
Nastar tidak hanya lezat, tetapi juga sarat akan makna simbolis, terutama saat perayaan Lebaran. Setiap elemen kue ini menyimpan filosofi mendalam:
- Simbol Kemewahan dan Penghormatan
Bahan-bahan pembuat nastar seperti mentega, telur, dan gula pada masa lalu dianggap sebagai komoditas “mewah” yang tidak mudah diakses semua orang. Oleh karena itu, menyajikan nastar kepada tamu yang datang bersilaturahmi menjadi bentuk penghormatan tertinggi. Ini menunjukkan bahwa tuan rumah menghargai kehadiran tamu dengan hidangan terbaik yang dimilikinya.
- Simbol Keberuntungan dan Kemakmuran
Dalam budaya Tionghoa yang juga memengaruhi tradisi kuliner Nusantara, nastar disebut “ong lai” atau “buah pir emas”. Frasa ini berarti “kemakmuran datang” atau “keberuntungan datang”. Kue nanas dianggap sebagai simbol pembawa rezeki dan keberuntungan, sehingga sangat cocok disajikan di momen awal tahun baru Islam.
- Simbol Kebersamaan dan Kehangatan
Bentuk nastar yang bulat kecil dan rasa manisnya yang lembut kerap dimaknai sebagai simbol kehangatan, kebersamaan, dan kebahagiaan. Ketika disantap bersama keluarga dan kerabat, kue ini menjadi perekat silaturahmi yang mempererat hubungan antar sesama.
Perjalanan Menjadi Ikon Lebaran
Seiring waktu, nastar menjelma menjadi lebih dari sekadar kue kering. Ia adalah bagian dari tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian—mulai dari membuat selai nanas yang diaduk berjam-jam hingga membentuk adonan dengan rapi—menjadi aktivitas yang sering dilakukan bersama keluarga menjelang Lebaran.
Nastar kini hadir berdampingan dengan kue kering lainnya seperti kastengel dan putri salju. Ketiganya menjadi trio kue kering yang paling dinanti dan selalu tersaji di meja makan saat Hari Raya.
Nastar: Ikon Kuliner yang Membawa Cerita
Di balik kelezatannya, nastar menyimpan cerita panjang tentang perjalanan budaya Indonesia. Ia adalah bukti bagaimana masyarakat Nusantara mampu mengakulturasi pengaruh asing menjadi sesuatu yang otentik dan bermakna. Dari meja-meja elite kolonial hingga menjadi hidangan wajib di setiap rumah saat Lebaran, nastar telah melalui perjalanan panjang yang membuatnya begitu istimewa.
Saat menikmati nastar di meja Lebaran tahun ini, cobalah untuk merenungkan sejenak. Di balik setiap gigitan manisnya, tersimpan sejarah adaptasi, makna simbolis, dan nilai-nilai kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam tradisi kita. Selamat menikmati nastar dan selamat merayakan Idulfitri 1447 H.
