Jutaan orang Indonesia setiap tahun naik pesawat. Di tengah hiruk-pikuk bandara yang padat, kita mungkin lupa bahwa dulu, terbang adalah pengalaman yang sangat langka. Bahkan, ada satu nama yang disebut-sebut sebagai orang Indonesia pertama yang pernah merasakannya: Abah Ono.
Tidak ada catatan resmi yang benar-benar memastikan siapa yang pertama. Tapi dalam berbagai kisah, nama Abah Ono kerap muncul. Dia adalah warga Cimahi, Bandung, yang hidup pada masa awal perkembangan penerbangan di Hindia Belanda.
Sekitar tahun 1915, pesawat masih merupakan teknologi baru yang sangat sederhana. Pesawat baling-baling dengan teknologi terbatas. Tidak semua orang Belanda pun bisa menaikinya. Namun Abah Ono justru terbang rutin, hampir setiap minggu, dari Bandung ke Batavia.
Bukan tanpa alasan. Menurut laporan koran Berita Buana, 15 Februari 1981, Abah Ono adalah pengawal seorang perwira Belanda bernama Kolonel Obooste. Karena tugasnya, ia kerap diajak ikut dalam perjalanan udara.
Tapi ada yang membuatnya istimewa. Abah Ono memiliki penglihatan yang sangat tajam. Dari udara, ia bisa membedakan pemandangan yang sulit dibedakan oleh orang biasa: mana permukiman, perkebunan, jalan, atau sungai. Di masa ketika navigasi pesawat masih sangat sederhana, kemampuannya ini menjadi aset berharga.
Ia juga punya satu keunggulan lain yang jarang dimiliki orang pada masanya. Abah Ono tidak pernah mabuk udara. Sejak pertama kali terbang, ia tetap stabil. Mungkin itu sebabnya ia selalu diandalkan dalam setiap perjalanan.
Kisah Abah Ono tidak hanya tentang penerbangan. Usianya pun menjadi perbincangan. Pada tahun 1981, ia mengaku sudah berusia 131 tahun. Banyak yang meragukan, termasuk petugas administrasi setempat. Namun wartawan Harian Berita Buana menemukan dokumen resmi dari Kementerian Pertahanan tertanggal 1953. Dalam dokumen itu, usia Abah Ono tercatat 112 tahun.
“Berdasarkan KPTS-MP (Menteri Pertahanan) no. 1456/12/II/III/PO/D/Mtgl.17-1-1953, tertulis umur Abah Ono berusia 112 tahun,” demikian laporan tersebut.
Abah Ono meninggalkan cerita tentang bagaimana teknologi yang sekarang kita anggap biasa, dulu adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Ia terbang ketika pesawat masih menjadi tontonan, ketika langit masih sangat eksklusif.
Dan dari ketinggian itu, ia melihat tanah Jawa dengan matanya yang tajam, mungkin menyaksikan perubahan yang perlahan terjadi di bawah sana, tanpa pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, jutaan orang akan mengikuti jejaknya.
