Serangan udara Iran kembali mengguncang wilayah Israel tengah pada Selasa (24/3/2026), dengan rudal-rudal yang menghantam sejumlah lokasi di Tel Aviv. Serangan ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Empat Lokasi Terdampak, Enam Orang Luka Ringan
Juru bicara layanan medis darurat Israel, Magen David Adom (MDA), Zaki Heller, mengonfirmasi bahwa empat lokasi terdampak telah diidentifikasi di seluruh kota. Enam orang dilaporkan mengalami luka ringan akibat serangan tersebut.
Tim penyelamat dan petugas darurat masih melakukan pencarian di lokasi-lokasi yang terkena hantaman rudal. Hingga berita ini diturunkan, belum ada detail lebih lanjut mengenai total korban atau tingkat kerusakan secara keseluruhan yang dirilis oleh otoritas setempat.
Puing Berserakan di Jalan Raya
Foto-foto dari lokasi kejadian yang dirilis Reuters memperlihatkan pemandangan mencekam di jalan-jalan Tel Aviv. Petugas darurat dan polisi tampak berkumpul di jalan yang dipenuhi puing-puing reruntuhan bangunan. Beberapa mobil terlihat rusak parah, satu di antaranya terbalik, sementara kendaraan lain hancur berantakan akibat serangan.
Bangunan-bangunan di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan signifikan, dengan dinding yang runtuh dan struktur yang tidak lagi utuh. Operasi pencarian masih berlangsung di lokasi yang terdampak.
Eskalasi Konflik yang Terus Berlanjut
Teheran telah secara konsisten melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal sejak perang dimulai. Target serangan Iran tidak hanya terbatas pada Israel, tetapi juga mencakup Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Eskalasi ini telah menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur yang signifikan, serta gangguan terhadap pasar energi global dan rute penerbangan di kawasan.
Serangan terbaru ini terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa AS dan Iran telah menggelar pembicaraan produktif untuk menyelesaikan konflik. Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran yang menegaskan tidak ada negosiasi dengan Washington sebelum tercapainya tujuan Iran dari perang.
