Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memanas memasuki pekan ketiga pada Maret 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan serangan berulang terhadap fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg, yang diklaim telah rusak parah akibat serangan udara sebelumnya. Pernyataan ini disampaikan Trump melalui media sosial, di mana ia juga mendesak negara-negara sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak global yang menyumbang sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Trump menekankan bahwa negara-negara penerima minyak melalui selat tersebut, seperti China, Jepang, Korea Selatan, Prancis, dan Inggris, harus ikut bertanggung jawab atas keamanannya. “Kami akan membantu, tapi mereka harus menjaga jalur itu sendiri,” ujarnya. Namun, hingga kini, belum ada respons positif dari negara-negara tersebut terhadap ajakan ini.
Di sisi lain, Iran bereaksi keras. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan Teheran siap membalas setiap agresi terhadap aset energinya. Garda Revolusi Iran telah meluncurkan serangan rudal dan drone ke target di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan, termasuk Irak. Militer Israel mengklaim berhasil mencegat sebagian besar serangan, sementara Arab Saudi menghancurkan 10 drone yang mengancam Riyadh dan wilayah timurnya. Serangan juga mengganggu operasi di pusat energi Uni Emirat Arab seperti Fujairah, menyebabkan penghentian sementara pemuatan minyak.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, bahkan menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai respons terhadap ancaman AS. Hal ini memicu lonjakan harga energi global, dengan analis memprediksi gangguan pasokan berkepanjangan. Konflik yang dimulai 28 Februari ini telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, mayoritas di Iran.
Ketegangan geopolitik ini memperburuk stabilitas pasar energi. Pemerintah AS telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warganya di Irak, sementara upaya diplomasi dari sekutu Timur Tengah ditolak oleh Washington. Apakah ini akan memicu perang lebih luas? Pasar global waspada, dengan harga minyak mentah melonjak di atas US$100 per barel. Eskalasi ini mengingatkan pada krisis energi 1970-an, dan tanpa negosiasi segera, dampaknya bisa meluas ke ekonomi dunia.
