Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengungkap potensi besar tanaman lokal Indonesia sebagai kandidat obat herbal untuk pengendalian diabetes. Kayu raru (Vatica perakensis), yang selama ini digunakan masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional tuak, terbukti memiliki khasiat menurunkan kadar gula darah.
Penelitian yang dipimpin Gunawan Trisandi Pasaribu dari Pusat Riset Botani Terapan BRIN mengeksplorasi ekstrak kulit kayu raru. Ekstrak ini memiliki sifat antioksidan kuat dan mampu menghambat enzim alfa-glukosidase—enzim yang memecah karbohidrat menjadi glukosa—sehingga dapat memperlambat lonjakan gula darah setelah makan. Uji in vitro sebelumnya bahkan menunjukkan penghambatan enzim lebih dari 90%, diduga berkat kandungan senyawa fenolik di dalamnya.
Untuk meningkatkan efektivitas, tim BRIN mengombinasikan ekstrak kayu raru dengan karbon aktif berbasis mocaf (tepung singkong termodifikasi). Karbon aktif ini dibuat melalui pemanasan khusus hingga berpori halus, berfungsi sebagai pembawa zat aktif agar lebih mudah diserap tubuh. Hasil uji praklinis pada tikus model diabetes menunjukkan ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah hingga 21,94%. Kombinasi dengan karbon aktif (rasio 75:25) mencapai penurunan 18,85%, sementara rasio 50:50 sebesar 14,97%. Meski kombinasi belum lebih unggul dari ekstrak tunggal, pendekatan ini membuka peluang pengiriman zat aktif yang lebih optimal.
Temuan ini berangkat dari pengetahuan tradisional masyarakat Batak yang telah lama memanfaatkan kayu raru untuk mengendalikan gula darah. Kayu ini tumbuh di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya, menjadikannya bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan modern.
Gunawan menekankan bahwa penelitian masih tahap awal. Kajian lanjutan diperlukan, termasuk analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, studi farmakokinetik, mekanisme kerja mendalam, serta pengujian keamanan sebelum masuk ke uji klinis pada manusia. Jika berhasil, kayu raru bisa menjadi solusi herbal terjangkau bagi jutaan penderita diabetes di Indonesia, di mana prevalensi penyakit ini terus meningkat akibat pola makan dan gaya hidup modern.
Riset ini menjadi contoh bagus bagaimana ilmu pengetahuan modern memvalidasi pengetahuan tradisional untuk inovasi kesehatan nasional. Harapannya, kayu raru tak hanya jadi bagian budaya, tapi juga obat herbal berbasis bukti ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
