Jakarta – Pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026 telah memicu gelombang kejut di pasar energi global. Dampaknya langsung terasa di kantong masyarakat dunia: harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tajam di tidak kurang dari 95 negara.
Data yang dihimpun dari Global Petrol Prices pada Kamis (19/3/2026) menunjukkan kenaikan harga bensin terjadi di berbagai kawasan hanya dalam hitungan pekan sejak konflik dimulai. Lonjakan ini menjadi tekanan baru bagi perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih dari berbagai krisis sebelumnya.
Gangguan di Jalur Vital Selat Hormuz
Akar permasalahan utama adalah terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Selat strategis yang terletak antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini merupakan jalur laut tersibuk untuk pengiriman minyak dunia. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global melewati selat ini setiap harinya.
Konflik yang melibatkan Iran—negara yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz—telah membuat rute kritis ini tidak aman untuk dilalui kapal tanker minyak. Kekhawatiran akan serangan, penyitaan kapal, atau blokade telah membuat biaya asuransi melonjak dan beberapa pengiriman terpaksa dialihkan atau ditunda. Akibatnya, pasokan minyak ke pasar global tersendat sementara permintaan tetap tinggi, mendorong harga ke level yang lebih tinggi.
Negara-Negara Paling Terpukul
Dampak kenaikan harga ini tidak merata, dengan beberapa negara mengalami guncangan lebih hebat dibanding lainnya. Amerika Serikat, sebagai poros utama konflik, mencatat kenaikan harga bensin rata-rata dari US$2,94 per galon pada Februari menjadi US$3,58 per galon. Dengan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, harga tersebut setara dengan lonjakan dari Rp47.922 menjadi Rp58.354 per galon, atau sekitar 20%.
Namun, kenaikan lebih tajam justru terjadi di sejumlah negara berkembang, termasuk tetangga terdekat Indonesia. Berikut adalah beberapa negara dengan lonjakan harga tertinggi:
Negara Estimasi Kenaikan Harga
Kamboja Sekitar 68%
Vietnam Sekitar 50%
Nigeria Sekitar 35%
Laos Sekitar 33%
Kanada Sekitar 28%
Kawasan Asia menjadi salah satu wilayah yang paling terpukul. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah membuat negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan berada dalam posisi sangat rentan. Jepang mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk, sementara Korea Selatan mencapai 70%. Kedua negara telah mengambil langkah darurat, termasuk menyiapkan cadangan strategis dan memberlakukan batas harga eceran BBM untuk meredam dampak pada masyarakat.
Di Asia Selatan, situasinya bahkan lebih kritis. Bangladesh mengambil langkah drastis dengan menutup seluruh universitas untuk menghemat energi. Pakistan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan dan kebijakan kerja dari rumah hingga 50% bagi pegawai pemerintahan dan swasta, sebagai upaya menekan konsumsi bahan bakar di tengah krisis.
Efek Domino ke Harga Pangan dan Inflasi
Kenaikan harga BBM bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Ia memicu efek domino ke berbagai sektor lain, terutama pangan. Biaya energi adalah komponen utama dalam seluruh rantai pasok makanan, dimulai dari produksi pupuk (yang berbasis gas alam), pengoperasian traktor dan mesin pertanian, hingga proses distribusi dan pengangkutan bahan pangan ke pasar.
Ketika harga minyak dan gas naik, biaya produksi dan logistik ikut melonjak. Akibatnya, harga bahan pokok di pasaran ikut terkerek naik. Tekanan ini berpotensi memicu inflasi pangan yang luas, mengancam ketahanan pangan, dan menambah beban masyarakat, terutama di negara-negara berkembang.
Ancaman Stagflasi Membayangi
Para ekonom memperingatkan bahwa lonjakan harga energi ini menghidupkan kembali kekhawatiran akan stagflasi. Stagflasi adalah kondisi ekonomi berbahaya yang ditandai dengan kombinasi inflasi tinggi (akibat kenaikan biaya energi) dan pertumbuhan ekonomi yang melambat (akibat gangguan produksi dan investasi).
Ekonom terkemuka David McWilliams, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, menyoroti peran krusial sektor transportasi. “Napas kehidupan ekonomi global adalah transportasi. Ini tentang mengangkut barang dari A ke B. Ini masalah logistik dan rantai pasokan, dan pada akhirnya transportasi adalah energi ekonomi global,” ujarnya.
Ketika biaya “napas ekonomi” ini membengkak, seluruh sistem melambat. Sejarah mencatat, krisis minyak besar pada tahun 1973, 1978, dan 2008 hampir selalu diikuti oleh perlambatan ekonomi global yang parah.
Dampak Lebih Luas di Luar Bahan Bakar
Penting untuk dipahami bahwa minyak dan gas bukan hanya sumber bahan bakar. Keduanya adalah bahan baku fundamental untuk ratusan produk sehari-hari. Mulai dari plastik, tekstil sintetis (polyester, nilon), kosmetik, hingga berbagai produk rumah tangga dan obat-obatan, semuanya berasal dari turunan minyak bumi. Gas alam juga merupakan komponen kunci dalam produksi pupuk urea yang menopang produktivitas pertanian dunia.
Dengan demikian, kenaikan harga komoditas energi ini akan merembet ke harga hampir semua barang manufaktur dan kebutuhan pokok, menciptakan tekanan inflasi yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Kesimpulan: Dunia Bersiap Hadapi Dampak Lanjutan
Perang AS-Israel vs Iran telah berubah dari konflik regional menjadi krisis energi global. Dengan 95 negara merasakan dampak langsung di pompa bensin, dunia kini bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi yang lebih besar.
Banyak negara bersiap menghadapi potensi lonjakan harga lanjutan pada April mendatang, seiring pasar melakukan penyesuaian terhadap realitas pasokan baru yang lebih mahal dan tidak pasti. Krisis ini menjadi pengingat telak betapa rapuhnya rantai pasok energi global dan bagaimana stabilitas suatu kawasan dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat di belahan dunia lain.
