Washington, D.C. – Perang melawan Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel memasuki babak baru yang sangat mahal. Pentagon secara resmi meminta tambahan dana sebesar $200 miliar atau setara Rp 3.270 triliun dari Kongres untuk mendanai kelanjutan operasi militer. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dengan tegas menyatakan bahwa konflik ini tidak memiliki “batas waktu” untuk berakhir.
Permintaan anggaran kolosal ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran para legislator di Washington tentang ruang lingkup dan strategi perang yang tidak pernah secara resmi disahkan oleh Kongres.
Hegseth: “Butuh Uang untuk Membunuh Orang Jahat”
Dalam konferensi pers di Pentagon, Kamis (19/3/2026), Hegseth tidak secara langsung mengkonfirmasi angka pasti $200 miliar, tetapi mengindikasikan bahwa jumlah tersebut bisa berubah.
“Soal $200 miliar, saya pikir angka itu bisa berubah. Jelas, butuh uang untuk membunuh orang jahat,” ujar Hegseth dengan nada blak-blakan.
“Kami akan kembali ke Kongres dan para anggotanya untuk memastikan kami didanai dengan baik untuk apa yang telah dilakukan, dan untuk apa yang mungkin harus kami lakukan di masa depan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa sejauh ini AS telah menyerang lebih dari 7.000 target di seluruh Iran, dan hari Kamis ini akan menjadi “paket serangan terbesar” sejauh ini.
Tidak Ada Otorisasi, Kongres Mulai Gelisah
Masalah krusialnya, Kongres AS tidak pernah memberikan otorisasi resmi untuk perang ini. Meskipun dikendalikan oleh Partai Republik yang sama dengan Presiden Trump, banyak anggota parlemen, terutama yang konservatif fiskal, menunjukkan kegelisahan yang meningkat.
Betty McCollum, anggota Demokrat terkemuka di subkomite DPR yang mengawasi belanja pertahanan, menegaskan bahwa dirinya akan menekan pemerintah untuk mendapatkan informasi rinci tentang upaya perang sebelum mempertimbangkan dana baru.
“Ini bukan stempel karet untuk presiden Amerika Serikat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPR Mike Johnson, juga dari Partai Republik, memberi sinyal kesiapan untuk mendukung proposal tersebut, meskipun ia mengaku belum meninjau detailnya.
“Saya mendukung apa pun yang diperlukan untuk memastikan rakyat Amerika tetap aman,” kata Johnson.
Trump: “Dunia Sangat Volatile”
Presiden Donald Trump membela permintaan anggaran besar ini sebagai sebuah keharusan. Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Trump menekankan bahwa kebutuhan pendanaan ini melampaui “ekskursi”-nya di Iran.
“Kami meminta karena banyak alasan, melampaui apa yang kami bicarakan di Iran. Ini adalah dunia yang sangat volatile,” kata Trump kepada wartawan.
Trump juga menyalahkan pendahulunya, Joe Biden, dan dukungan AS untuk Ukraina sebagai penyebab menipisnya persediaan amunisi AS.
“Kami ingin memiliki amunisi dalam jumlah besar. Kami punya banyak saat ini. Tapi itu terkuras karena memberi terlalu banyak ke Ukraina,” ujarnya.
Namun, Trump meremehkan biaya perang yang sebenarnya, dengan mengatakan bahwa konflik bisa diakhiri “dalam dua detik jika Anda mau.”
Detail Operasi Militer Terkini
Jenderal Dan Caine, perwira militer tertinggi AS yang berbicara bersama Hegseth, memberikan rincian tentang senjata yang digunakan melawan Iran. Pesawat A-10 Warthog dikerahkan untuk “memburu dan membunuh kapal-kapal serang cepat” di Selat Hormuz. Sementara itu, helikopter AH-64 Apache digunakan di Irak untuk menarget kelompok milisi pro-Iran.
Caine juga mengungkapkan bahwa beberapa sekutu AS telah mulai menggunakan helikopter serang untuk melawan drone satu arah yang diluncurkan oleh pasukan Iran.
Implikasi: Perang Tanpa Akhir dengan Biaya Tak Terbatas
Permintaan anggaran sebesar $200 miliar ini adalah tambahan di atas anggaran tahunan Pentagon yang telah disetujui Kongres sebesar lebih dari $800 miliar, serta dana $150 miliar dari RUU pemotongan pajak tahun lalu. Ini adalah angka yang luar biasa tinggi dan mencerminkan skala konflik yang terus membesar.
Dengan Hegseth yang menolak memberikan kerangka waktu dan menyerahkan keputusan akhir kepada Trump, prospek perang ini menjadi semakin tidak pasti. “Ini akan menjadi pilihan presiden pada akhirnya, di mana kami berkata, ‘Hei, kami telah mencapai apa yang perlu kami capai’,” katanya.
Pernyataan ini, dikombinasikan dengan permintaan anggaran raksasa, mengirimkan sinyal yang mengkhawatirkan: dunia harus bersiap untuk perang yang panjang, mahal, dan tanpa garis akhir yang jelas. Sementara itu, krisis kemanusiaan dan energi di kawasan terus memburuk, dan Kongres mulai mempertanyakan apakah mereka sedang diseret ke dalam pusaran konflik yang tak terkendali.
