Jakarta – Peringatan dari Biro Investigasi Federal (FBI) pekan lalu tentang potensi serangan drone Iran ke California telah memicu kekhawatiran di Amerika Serikat. Meskipun pejabat federal dan negara bagian meredam ketakutan dengan menyatakan tidak ada indikasi serangan yang akan segera terjadi, peringatan tersebut cukup serius hingga mendorong peningkatan keamanan di ajang Academy Awards yang digelar di Los Angeles akhir pekan lalu.
Namun, pertanyaan besarnya tetap mengemuka: seberapa besar sebenarnya kemampuan Iran untuk menyerang daratan AS dengan drone militer?
Kemampuan Militer Iran: Antara Ambisi dan Realitas
Dua pakar yang diwawancarai The Times of Israel memberikan pandangan bahwa meskipun Iran memiliki ambisi untuk menyerang AS, kemampuan teknis untuk melakukannya dengan drone militer kemungkinan besar masih di luar jangkauan.
Michael Rubin, seorang peneliti senior di American Enterprise Institute yang mengkhususkan diri dalam isu Iran, menegaskan bahwa serangan semacam itu lebih merupakan tujuan jangka panjang daripada ancaman langsung. Menurutnya, keberhasilan menyerang AS akan menjadi propaganda besar bagi rezim di Teheran.
“Kekuatan asing pertama yang menyerang AS sejak Perang Dunia II akan menjadi pencapaian yang bisa diklaim Iran sebagai kemenangan selama satu generasi,” ujar Rubin, yang juga mantan pejabat Pentagon dan pernah tinggal di Iran.
Rubin menambahkan bahwa secara teoritis, serangan drone bisa diluncurkan dari kapal kargo di Samudra Pasifik atau bahkan dari wilayah Meksiko. Ia menyebutkan bahwa Iran dilaporkan memiliki hubungan dengan jaringan kriminal dan aktor-aktor jahat di Amerika Latin.
“Tidak akan terlalu sulit untuk memanfaatkan mereka jika harganya tepat,” katanya.
Kendala Teknis dan Jarak Jangkau
Skenario serangan dari laut atau negara tetangga memang terbuka, namun Kateryna Bondar, seorang peneliti di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, meragukan skenario tersebut. Ia menilai bahwa mendekatkan drone militer ke pantai AS dengan kapal kargo adalah operasi yang sangat rumit.
“Membawa drone militer mendekati pantai AS dengan kapal kargo adalah hal yang rumit. Saya rasa Iran tidak memiliki kemampuan seperti itu atau telah merencanakannya jauh-jauh hari,” tegas Bondar, mantan penasihat pemerintah Ukraina yang juga mempelajari penggunaan drone dalam perang di Ukraina.
Salah satu kendala utama adalah jarak. Drone militer Iran diyakini memiliki jangkauan maksimum sekitar 2.000 kilometer (1.200 mil), jauh dari cukup untuk mencapai AS jika diluncurkan dari wilayah Iran. Selain itu, sistem intelijen AS yang canggih, termasuk satelit, analisis spektrum, dan pertahanan perbatasan, kemungkinan besar dapat menggagalkan serangan semacam itu.
Ancaman Nyata: Teror Domestik dengan Drone Komersial
Meskipun serangan drone militer skala penuh dianggap tidak mungkin, Bondar memperingatkan tentang ancaman yang lebih realistis: serangan teror domestik menggunakan drone komersial yang tersedia secara bebas. Iran diyakini memiliki sel-sel tidur dan simpatisan di berbagai negara yang dapat melancarkan aksi teror.
“Perang drone telah menjadi sangat mudah diakses, murah, dan tersedia secara komersial, sehingga dapat menjadi aksi terorisme di sini, di AS,” jelas Bondar.
Ia menggambarkan betapa mudahnya merakit senjata dari barang-barang yang dibeli secara daring.
“Siapa pun dapat membeli drone FPV secara online di Amazon, memasang perangkat peledak, dan jadilah improvised explosive device (IED) terbang. Bukan hanya Iran, siapa pun bisa melakukan itu,” ungkapnya merujuk pada drone first-person-view yang banyak dijual bebas.
Bondar mencontohkan operasi “Spider’s Web” yang dilakukan Ukraina tahun lalu, di mana pasukan Ukraina menyerang pesawat pembom strategis Rusia di pangkalan udara dengan meluncurkan drone berisi bahan peledak dari truk di dekat target, jauh dari garis depan.
Serangan model ini, menurut Bondar, tidak memerlukan keahlian militer atau logistik rumit seperti yang diperlukan untuk mengirim drone militer ke dekat AS.
“Jauh lebih mudah daripada membawa drone Shahed dan kapal kargo dengan risiko melewati patroli perbatasan, Penjaga Pantai, dan berbagai pertahanan di perbatasan,” katanya.
“Drone hanyalah alat. Cukup mudah diterbangkan, bermanuver, dan dipelajari. Siapa pun bisa melakukannya, sehingga ancaman ini menjadi lebih mungkin terjadi,” pungkasnya.
Kesimpulan
Peringatan FBI tentang potensi serangan drone Iran mungkin didasarkan pada informasi intelijen yang perlu diwaspadai. Namun, para ahli menilai bahwa kemampuan Iran untuk melancarkan serangan militer besar-besaran ke daratan AS dengan drone sangatlah terbatas. Ancaman yang lebih masuk akal justru datang dari potensi aksi terorisme menggunakan drone komersial yang murah dan mudah didapat, yang bisa dilakukan oleh aktor mana pun, termasuk sel-sel yang berafiliasi dengan Iran. Hal ini menekankan perlunya kewaspadaan terhadap ancaman asimetris di era digital, di mana teknologi sederhana dapat menjadi senjata berbahaya di tangan yang salah.
