Tel Aviv/Washington – Perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran terus memanas dengan eskalasi militer signifikan dalam 24 jam terakhir. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengumumkan bahwa Amerika akan meluncurkan “paket serangan terbesar” dalam kampanye militer bersama Israel di Iran. Sementara itu, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa ia secara pribadi memerintahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan terhadap ladang minyak dan gas Iran.
AS Janjikan Serangan Terbesar
Dalam konferensi pers di Pentagon pada Kamis (19/3/2026), Hegseth menyatakan bahwa kampanye militer yang sedang berlangsung telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Sejauh ini, kami telah menyerang lebih dari 7.000 target di seluruh Iran dan infrastruktur militernya. Itu bukan serangan tambal sulam. Itu adalah kekuatan luar biasa yang diterapkan dengan presisi. Dan sekali lagi, hari ini akan menjadi paket serangan terbesar, sama seperti kemarin,” tegas Hegseth.
Menteri Pertahanan AS itu juga memuji serangan Israel terhadap ladang gas South Pars sebagai sebuah “peringatan” bagi Iran. Ia mendesak Teheran untuk menghentikan serangan balasan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk yang telah memicu lonjakan harga minyak global.
“Iran telah mempersenjatai energi selama beberapa dekade. Israel jelas mengirimkan peringatan, dan Presiden Trump telah membuatnya sangat jelas. Iran tahu ketika Anda menyerang Pulau Kharg dan kemampuan militer di Pulau Kharg – yang merupakan satu-satunya hal yang kami serang – kami dapat menahan apa pun yang menjadi masalah,” ujar Hegseth merujuk pada serangan AS akhir pekan lalu ke hub minyak vital Iran.
Trump: “Saya Bilang ke Netanyahu, Jangan Lakukan Itu”
Namun, pernyataan mengejutkan datang dari Presiden Trump. Dalam kesempatan terpisah di Ruang Oval bersama Perdana Menteri Jepang, Trump mengklaim bahwa serangan terhadap ladang South Pars pada Rabu lalu tidak dikoordinasikan dengan AS. Ia juga menegaskan bahwa ia telah memerintahkan Netanyahu untuk tidak lagi menyerang ladang minyak dan gas Iran.
“Saya bilang padanya, ‘Jangan lakukan itu,’ dan dia tidak akan melakukannya. Kami tidak membahasnya. Kami independen, tetapi hubungan kami sangat baik. Ini terkoordinasi. Tapi kadang-kadang dia akan melakukan sesuatu, dan jika saya tidak menyukainya… dan jadi kami tidak akan melakukannya lagi,” kata Trump kepada wartawan.
Pernyataan Trump ini kontras dengan laporan sumber-sumber AS yang mengatakan kepada The Times of Israel dan media lainnya bahwa Washington sebenarnya telah menyetujui serangan tersebut. Menariknya, baik Hegseth maupun Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, tidak mengulangi klaim Trump saat berbicara di Pentagon.
Serangan Balasan Iran dan Dampak Energi Global
Iran terus melancarkan serangan balasan. Sembilan salvo rudal balistik ditembakkan ke arah Israel sepanjang Kamis, meskipun tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan. Sirene peringatan berbunyi di Israel utara, tengah, dan area Yerusalem, mengirimkan jutaan warga ke tempat perlindungan.
Di kawasan Teluk, Iran melanjutkan serangan terhadap fasilitas energi. Serangan terhadap ladang gas raksasa Ras Laffan di Qatar – pusat LNG terbesar dunia – telah memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak perang dimulai, sementara harga gas alam di Eropa melonjak 24%.
IDF Hancurkan Kapal Angkatan Laut Iran
Di medan tempur, Angkatan Udara Israel (IAF) melancarkan serangan pertamanya ke wilayah utara Iran. Dalam operasi semalam, pesawat tempur Israel menghancurkan beberapa kapal Angkatan Laut Iran di kota pelabuhan Bandar Anzali dan di Laut Kaspia.
IDF mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menghancurkan sebuah korvet, empat kapal rudal, beberapa kapal tambahan dan patroli, serta sebuah pusat komando dan galangan kapal. Militer Israel mengatakan bahwa meskipun kapal-kapal tersebut tidak menjadi ancaman langsung bagi Israel dari Laut Kaspia, mereka memiliki kemampuan pertahanan udara dan anti-kapal selam yang dapat mengancam operasi pesawat Israel di atas Iran.
Serangan ini menandai pertama kalinya IDF menyerang area tersebut dalam konflik ini maupun dalam putaran konflik sebelumnya.
Sikap Tegas Hegseth dan Dukungan Negara Teluk
Hegseth juga mengomentari upaya propaganda digital Iran, dengan mengatakan bahwa AS mengambil “tindakan balasan” terhadap pemadaman internet di Iran untuk memastikan pesan dapat disampaikan kepada “khalayak tertentu” di dalam negeri. Ia juga mengkritik penggunaan gambar dan laporan palsu buatan AI oleh rezim Iran.
Menteri Pertahanan AS itu juga memuji negara-negara Teluk, termasuk UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, yang disebutnya telah “maju dengan luar biasa” dalam mendukung kampanye melawan Iran.
“Upaya ceroboh Iran untuk menyerang infrastruktur sipil dan hal-hal lain telah membawa negara-negara yang mungkin tidak akan sepenuhnya terlibat seperti sekarang ini, menjadi tepat berada dalam orbit kita,” katanya.
Dengan eskalasi yang terus berlanjut, perang di Timur Tengah memasuki fase baru yang semakin kompleks. Pernyataan kontradiktif antara Trump dan pejabat Pentagon, serta serangan Israel yang meluas hingga ke Laut Kaspia, menunjukkan dinamika konflik yang cepat berubah dan sulit diprediksi. Sementara itu, ancaman terhadap pasokan energi global terus membayangi, dengan harga komoditas yang melonjak dan kekhawatiran akan krisis yang lebih panjang.
