Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menggelar “pembicaraan yang produktif” mengenai “penyelesaian lengkap dan total” atas konflik di Timur Tengah. Dalam unggahan di TruthSocial, Trump juga menyatakan akan menunda serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan, tergantung pada keberhasilan pertemuan yang sedang berlangsung.
“SAYA DENGAN SENANG HATI MELAPORKAN BAHWA AMERIKA SERIKAT, DAN NEGARA IRAN, TELAH SELAMA DUA HARI TERAKHIR MELAKUKAN PEMBICARAAN YANG SANGAT BAIK DAN PRODUKTIF TERKAIT PENYELESAIAN LENGKAP DAN TOTAL ATAS PERMUSUHAN KITA DI TIMUR TENGAH,” tulis Trump.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan suasana dan nada pembicaraan yang konstruktif, ia telah memerintahkan Departemen Perang untuk menunda serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Pernyataan Trump ini muncul dua hari setelah ia memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak dipatuhi, Trump mengancam akan “menghancurkan” berbagai pembangkit listrik Iran.
Iran Membantah Terjadinya Perundingan
Kementerian Luar Negeri Iran segera mengeluarkan pernyataan membantah klaim Trump. “Kami membantah apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump mengenai adanya negosiasi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi Teheran.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan posisi mereka yang menolak segala jenis negosiasi “sebelum tercapainya tujuan Iran dari perang.” Pernyataan ini mempertegas bahwa Iran belum menunjukkan kesediaan untuk duduk satu meja dengan Washington.
Respons Pasar dan Sejumlah Pertanyaan
Pernyataan Trump direspons positif oleh pasar. Harga minyak Brent turun 13% menjadi sekitar US$96 per barel, sementara indeks FTSE 100 naik 0,5% setelah sempat turun lebih dari 2%.
Namun, pernyataan Trump menyisakan sejumlah pertanyaan penting. Pertama, klaim tentang pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” tidak dikonfirmasi oleh Iran dan bertolak belakang dengan nada agresif yang disuarakan kedua pihak selama akhir pekan.
Kedua, tidak jelas secara pasti apa fokus pembicaraan tersebut. Topiknya bisa saja terkait program rudal balistik Iran atau pengayaan nuklir, atau sekadar gencatan senjata—sebuah kemungkinan yang justru direndahkan oleh Trump pada Jumat lalu.
Ketiga, pernyataan Trump juga bisa merujuk pada Selat Hormuz, meski membuka jalur tersebut belum dijanjikan secara terbuka oleh Iran. Sebagian besar pakar menilai hal itu tidak mungkin, karena kendali Iran atas Selat Hormuz menjadi pegangan penting dalam perang ini.
Banyak negara di dunia kini menantikan perkembangan atau rincian terkait pembicaraan AS-Iran dan langkah selanjutnya. Apakah ini awal dari de-eskalasi konflik, atau hanya manuver politik di tengah perang yang telah memasuki pekan keempat, masih harus dibuktikan.
